Adab-Adab Penuntut Ilmu Untuk Dirinya Sendiri

adab penuntut ilmu untuk dirinya sendiri

1. Membersihkan Hati dari Akhlak-Akhlak Tercela

Seorang penuntut ilmu harus membersihkan dirinya dari segala bentuk kebohong, kebencian, hasad, kekotoran, serta keyakinan dan akhlak yang buruk, agar hati kita layak untuk menerima ilmu syar’i dan bisa menjaganya, mampu manyikap kedalaman makna dan rahasia ilmu yang terpendam.

Jika hati dibersihkan untuk ilmu, maka akan muncul keberkahan ilmu dan akan semakin berkembang, layaknya tanah yang dibersohkan untuk tanaman, maka tanaman tersebut pasti akan tumbuh dan berkembang.

Imam Sahl bin Abdillah At Tustary Rahimahullah berkata:
“ilmu tidak akan masuk kedalam hati, sementara didalam hatinya ada sesutau yang dibenci allah”.

2. Memperbaiki Niat dan Senantiasa Memerangi Hawa Nafsu

Niat yang baik dalam menuntut ilmu syar’i adalah dengan cara mengharap wajah allah, berusaha mengamalkannya, menghidupkan ajaran islam, menerangi hatinya, membersihkan keadaan batinnya, meraih kedekatan dengan allah di akhirat, serta meraih terhadap apa yang sudah allah siapkan berupa keridhaan dan karunianya.

Dengan ilmu sya’i maka dia tidak akan menginginkan pembendaharaan duniawi seperti untuk mendapatkan jabatan, harta, kehormatan, menyaingi teman-teman sesama penuntut ilmu, pujian manusia kepadanya,

Jika tercapai niat karena allah, maka amalah kita pasti akan diterima, serta tumbuh dan berkembang keberkahannya. Namun sebaliknya jika mereka meniatkan kepada selain allah, maka dia akan gagal, sia-sia dan merugilah orang seperti itu.

3. Manfaatkan Masa Muda Secara Maksimal

Masa muda adalah masa yang paling baik untuk menuntut ilmu sebanyak banyaknya, ketika muda kita tidak boleh malas-malasan, selalu berkata “nanti” dan sering ber anagn-angan, karena setiap waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali dan usia kita tidak ada penggantinya. Anak muda harus mencari ilmu secara maksimal, mencurahkan kesungguhan dan keseriusan.

Oleh karena itu, pada zaman dahulu para ahli salaf mengasingkan dirinya dari keluarga dan jauh dar tempat tinggal karena jika pikiran mereka terbagi-bagi maka kurang maksimal dalam mengetahui hakkikat ilmu serta perkara-perkara yang rumit.

Bahkan ada kalimat bijak yang dikatakan imam syafi’i rahimahullah :
“seandainya aku diberi tugas membeli bawang, pasti aku tidak bisa memahami satu masalah ilmiyah”.

4. Memiliki Sifat Qana’ah

Qana’ah disini adalah dia yang merasa cukup dengan yang mudah didapat meskipun sedikit, dalaam hal pakaian dia selalu cukup dan selalu menutup aurat meskipun telah usang. Dia yang bersabar atas kesempitan dalam hidupnya, dia akan memperoleh luasnya ilmu, serta dapat mengumpulkan hati yang tercerai-berai karena banyaknya angan-angan, dengan begitu maka terpancarlah darinya mata air-mata air hikmah.

Imam syafi’i rahimahullah berkata:
“tidak ada seorangpun yang bisa menuntut ilmu ini dengan kekuasaan dan ego yang tinggi lalu dia berhasil. Akan tetapi, orang yang menuntut ilmu dengan kerendahan diri, sempitnya kehidupan, serta melayani ulama, dialah yang berhasil”.

5. Mangatur Waktu (Manajemen Waktu)

Seorang penuntut ilmu harus pintar membagi waktu serta memanfatkan apa yang tersisa dari usianya, karena umur manusia adalah sesuatu yang paling berharga untuk dirinya.

Waktu yang terbaik untuk menghafal adalah pada waktu sahur. Dan yang paling baik untuk meneliti adalah pagi hari, waktu terbaik untuk menulis adalah siang hari, dan yang paling baik untuk mentela’ah dan mengulang-ulang pelajaran adalah malam hari.

6. Mengatur Makanan dari Sisi Jumlah dan Kehalalannya

Salah satu sebab yang paling besar untuk bisa fokus dalam belajar, memahami ilmu dan tidak cepat merasa bosan adalah dengan makan makanan halal dengan jumlah yang sedikit.

Kerena dengan banyaknya makan dan minum akan menyebabkan banyak ngantuk, lambat berpikir, berfikir kurang cemerlang, futur panca indra, dan malasnya badan., danbanyak penyakit yang berasl dari makanan dan minuman.

Maka barang siapa yang menginginkan kesuksesan dalam belajar untuk mengumpulkan bekal ilmu sedangkan dia masih membiasakan makan dan minum yang banyak, maka sama saja seperti dia menginginkan sesuatu yang mustahil menurut kebiasaan manusia.

7. Menerapkan Sifat Wara”

Seorang penuntut ilmu juga harus menerapkan sifat wara’ pada dirinya pada semua urusannya, dan memilih yang halal dan baik makanan, minuman, pakainya dan tempat tinggalnya, dan semua yang dibutuhkan oleh dirinya dan keluarganya agar dengan hal ini hatinya bersinar dan layak mendapatkan cahaya ilmu serta manfaatnya.

Orang yang paling berhak diteladani dalam hal ini adalah pemimpin kita yaitu Rasulullah SAW. Sebagaimana ketika itu beliau tidak memakan sebutir kurma yang di dapat di jalan karena rasul khawatir jika kura tersebut adalah kura sedekah meskipun sebenarnya jauh kemungkinannya.

8. Menghindari Makanan Yang Membahayakan Akal

Penuntut ilmu juga harus menghindapa makan yang menyebabkan lambatnya berpikir dan lemahya panca indra seperti: buah apel yang terlalu masam, cuka dan baqilla ( sejenis kacang-kacangan).
Begitupun dengan makanan yang bisa menyebabkan banyak lendir, memperberat badan, dan melemahka otak seperti terlalu banyak mengkonsumsi susu, ikan dan yang semisal lainnya.

9. Mengatur Waktu Tidur

Penuntut ilmu hendaknya mengatur waktu tidurnya dengan mengurangi waktu tidurnya selama tidak membahayakan badan dan akalnya, waktu tidur yang paling baik adalah selama delapan jam. Jika memungkinkan, tidak mengapa mengistirahatkan jiwa dan badannya dengan tidur sebentar disiang hari, Rasulullah biasanya istirahat sebentar untuk tidur sebelum waktu dzuhur.

10. Ketentuan Menjauh dari Manusia dan Berinteraksi dengan Manusia

Penuntut ilmu harus menghindari interaksi (berlebihan) dengan manusia terutama dengan lawan jenis, atau berteman dengan orang yang sering berbuat sesuatu yang tercela, khususnya bagi orang yang suka bermain-main dengan temannya.

Dampak buruk dari berinteraksi berlebihan dengan manusia adalah usia kita terbuang sia-sia tanpa faedah, hilanynya ajaran islam dan hartapun lenyap.

Seorang pencari ilmu seharusnya berinteraksi dengan orang-orang yang memberi manfaat kepadanya atau dia yang mengambil manfaat darinya. Seperti dalam sebuah riwayat dikatakan:
“jadilah seorang alim atau penuntut ilmu; dan jangan menjadi orang yang ke tiga, sehingga kamu celaka”

Jika tanpa sadar kita berinteraksi dengan orang-orang yang membawa pengaruh buruk terhadap perjalan menuntut ilmu kita, maka hendaknya perlahan kita mengakhiri interaksi yang tidak baik tersebut karena dampak buruk akan ditimbulkan darinya yang berupa pelanggaran terhadap ajaran islam.